<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-6214438167764716027</id><updated>2011-04-21T20:51:49.047-07:00</updated><category term='source : http://www.ham.go.id/spt_sejarah.asp'/><title type='text'>Bahan Ajar PKn</title><subtitle type='html'>SMAN 1 MALANG - JL. TUGU UTARA NO. 1</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://farah-web.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6214438167764716027/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://farah-web.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Dra. Farah Nirwana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16550424780648780794</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_pk-rp23WqcM/R4Q0bJqPRdI/AAAAAAAAAAU/vKIJA54u2hs/S220/FARAH.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>5</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6214438167764716027.post-2918984163217611094</id><published>2008-09-06T04:40:00.000-07:00</published><updated>2008-09-06T05:05:52.159-07:00</updated><title type='text'>Istilah Hukum</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;color:#3333ff;"&gt;Advokat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sejak berlakunya UU nomor 18 tahun &lt;a title="2003" href="http://id.wikipedia.org/wiki/2003"&gt;2003&lt;/a&gt; tentang advokat, sebutan bagi seseorang yang berprofesi memberikan bantuan hukum secara swasta - yang semula terdiri dari berbagai sebutan, seperti advokat, pengacara, konsultan hukum, penasihat hukum - adalah advokat.&lt;br /&gt;&lt;a id="Advokat_dan_pengacara" name="Advokat_dan_pengacara"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;color:#33cc00;"&gt;Advokat dan pengacara&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kedua istilah ini sebenarnya bermakna sama, walaupun ada beberapa pendapat yang menyatakan berbeda. Sebelum berlakunya UU nomor 18 tahun 2003, istilah untuk pembela keadilan plat hitam ini sangat beragam, mulai dari istilah pengacara, penasihat hukum, konsultan hukum, advokat dan lainnya. Pengacara sesuai dengan kata-kata secara harfiah dapat diartikan sebagai orang yang beracara, yang berarti individu, baik yang tergabung dalam suatu kantor secara bersama-sama atau secara individual yang menjalankan profesi sebagai penegak hukum plat hitam di &lt;a title="Pengadilan" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pengadilan"&gt;pengadilan&lt;/a&gt;. Sementara advokat dapat bergerak dalam pengadilan, maupun bertindak sebagai konsultan dalam masalah hukum, baik pidana maupun perdata. Sejak diundangkannya UU nomor 18 tahun 2003, maka istilah-istilah tersebut distandarisasi menjadi advokat saja.&lt;br /&gt;Dahulu yang membedakan keduanya yaitu Advokat adalah seseorang yang memegang izin ber"acara" di Pengadilan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehakiman serta mempunyai wilayah untuk "beracara" di seluruh wilayah Republik Indonesia sedangkan Pengacara Praktek adalah seseorang yang memegang izin praktek / beracara berdasarkan Surat Keputusan Pengadilan Tinggi setempat dimana wilayah beracaranya adalah "hanya" diwilayah Pengadilan Tinggi yang mengeluarkan izin praktek tersebut. Setelah UU No. 18 th 2003 berlaku maka yang berwenang untuk mengangkat seseorang menjadi Advokat adalah Organisasi Advokat.&lt;br /&gt;&lt;a id="Konsultan_hukum" name="Konsultan_hukum"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;color:#ff9900;"&gt;Konsultan hukum&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Konsultan hukum atau dalam bahasa Inggris counselor at law atau legal consultant adalah orang yang berprofesi memberikan pelayanan jasa hukum dalam bentuk konsultasi, dalam sistem hukum yang berlaku di negara masing-masing. Untuk di Indonesia, sejak UU nomor 18 tahun 2003 berlaku, semua istilah mengenai konsultan hukum, pengacara, penasihat hukum dan lainnya yang berada dalam ruang lingkup pemberian jasa hukum telah distandarisasi menjadi advokat.&lt;br /&gt;&lt;a id="Jaksa_dan_polisi" name="Jaksa_dan_polisi"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;color:#009900;"&gt;Jaksa dan polisi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dua institusi publik yang berperan aktif dalam menegakkan hukum publik di Indonesia adalah &lt;a title="Kejaksaan" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kejaksaan"&gt;kejaksaan&lt;/a&gt; dan &lt;a title="Polisi" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Polisi"&gt;kepolisian&lt;/a&gt;. Kepolisian atau polisi berperan untuk menerima, menyelidiki, menyidik suatu tindak pidana yang terjadi dalam ruang lingkup wilayahnya. Apabila ditemukan unsur-unsur tindak &lt;a class="new" title="Pidana (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Pidana&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1"&gt;pidana&lt;/a&gt;, baik khusus maupun umum, atau tertentu, maka pelaku (tersangka) akan diminta keterangan, dan apabila perlu akan ditahan. Dalam masa penahanan, tersangka akan diminta keterangannya mengenai tindak pidana yang diduga terjadi. Selain tersangka, maka polisi juga memeriksa &lt;a title="Saksi" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Saksi"&gt;saksi-saksi&lt;/a&gt; dan alat bukti yang berhubungan erat dengan tindak pidana yang disangkakan. Keterangan tersebut terhimpun dalam &lt;a class="new" title="Berita acara pemeriksaan (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Berita_acara_pemeriksaan&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1"&gt;berita acara pemeriksaan&lt;/a&gt; (BAP) yang apabila dinyatakan P21 atau lengkap, akan dikirimkan ke kejaksaan untuk dipersiapkan masa persidangannya di pengadilan. Kejaksaan akan menjalankan fungsi pengecekan BAP dan analisa bukti-bukti serta saksi untuk diajukan ke pengadilan. Apabila kejaksaan berpendapat bahwa bukti atau saksi kurang mendukung, maka kejaksaan akan mengembalikan berkas tersebut ke kepolisian, untuk dilengkapi. Setelah lengkap, maka kejaksaan akan melakukan proses penuntutan perkara. Pada tahap ini, pelaku (tersangka) telah berubah statusnya menjadi terdakwa, yang akan disidang dalam pengadilan. Apabila telah dijatuhkan putusan, maka status terdakwa berubah menjadi terpidana.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6214438167764716027-2918984163217611094?l=farah-web.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://farah-web.blogspot.com/feeds/2918984163217611094/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6214438167764716027&amp;postID=2918984163217611094' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6214438167764716027/posts/default/2918984163217611094'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6214438167764716027/posts/default/2918984163217611094'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://farah-web.blogspot.com/2008/09/istilah-hukum.html' title='Istilah Hukum'/><author><name>Dra. Farah Nirwana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16550424780648780794</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_pk-rp23WqcM/R4Q0bJqPRdI/AAAAAAAAAAU/vKIJA54u2hs/S220/FARAH.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6214438167764716027.post-976100461023997098</id><published>2008-03-22T02:01:00.000-07:00</published><updated>2008-03-22T02:09:50.114-07:00</updated><title type='text'>Hak dan Kewajiban Sebagai Warga Negara Indonesia</title><content type='html'>Berikut ini adalah beberapa contoh hak dan kewajiban kita sebagai rakyat Indonesia. Setiap warga negara memiliki hak dan kewajiban yang sama satu sama lain tanpa terkecuali. Persamaaan antara manusia selalu dijunjung tinggi untuk menghindari berbagai kecemburuan sosial yang dapat memicu berbagai permasalahan di kemudian hari.&lt;br /&gt;Namun biasanya bagi yang memiliki banyak uang atau tajir bisa memiliki tambahan hak dan pengurangan kewajiban sebagai warga negara kesatuan republik Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;A. Contoh Hak Warga Negara Indonesia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Setiap warga negara berhak mendapatkan perlindungan hukum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Setiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Setiap warga negara memiliki kedudukan yang sama di mata hukum dan di dalam pemerintahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Setiap warga negara bebas untuk memilih, memeluk dan menjalankan agama dan kepercayaan masing-masing yang dipercayai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Setiap warga negara berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Setiap warga negara berhak mempertahankan wilayah negara kesatuan Indonesia atau nkri dari serangan musuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Setiap warga negara memiliki hak sama dalam kemerdekaan berserikat, berkumpul mengeluarkan pendapat secara lisan dan tulisan sesuai undang-undang yang berlaku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;B. Contoh Kewajiban Warga Negara Indonesia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Setiap warga negara memiliki kewajiban untuk berperan serta dalam membela, mempertahankan kedaulatan negara indonesia dari serangan musuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Setiap warga negara wajib membayar pajak dan retribusi yang telah ditetapkan oleh pemerintah pusat dan pemerintah daerah (pemda)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Setiap warga negara wajib mentaati serta menjunjung tinggi dasar negara, hukum dan pemerintahan tanpa terkecuali, serta dijalankan dengan sebaik-baiknya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Setiap warga negara berkewajiban taat, tunduk dan patuh terhadap segala hukum yang berlaku di wilayah negara indonesia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Setiap warga negara wajib turut serta dalam pembangunan untuk membangun bangsa agar bangsa kita bisa berkembang dan maju ke arah yang lebih baik&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6214438167764716027-976100461023997098?l=farah-web.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://farah-web.blogspot.com/feeds/976100461023997098/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6214438167764716027&amp;postID=976100461023997098' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6214438167764716027/posts/default/976100461023997098'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6214438167764716027/posts/default/976100461023997098'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://farah-web.blogspot.com/2008/03/hak-dan-kewajiban-sebagai-warga-negara.html' title='Hak dan Kewajiban Sebagai Warga Negara Indonesia'/><author><name>Dra. Farah Nirwana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16550424780648780794</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_pk-rp23WqcM/R4Q0bJqPRdI/AAAAAAAAAAU/vKIJA54u2hs/S220/FARAH.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6214438167764716027.post-1358540188874390119</id><published>2008-02-07T03:23:00.000-08:00</published><updated>2008-02-07T03:33:24.709-08:00</updated><title type='text'>SEJARAH KONSTITUSI DAN AMANDEMEN UUD 1945</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;font-size:100%;"&gt;Secara  umum terdapat dua macam konstitusi yaitu : 1) konstitusi tertulis dan 2)  konstitusi tak tertulis. Dalam hal yang kedua ini, hampir semua negara di dunia  memiliki konstitusi tertulis atau undang-undang dasar (UUD) yang pada umumnya  mengatur mengenai pembentukan, pembagian wewenang dan cara bekerja berbagai  lembaga kenegaraan serta perlindungan hak azasi manusia&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="" href="http://blogster.com/cgi-bin/blogapp/users/users.cgi?action=article_body&amp;amp;id=#_ftn3" name="_ftnref3"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: 'Times New Roman';" lang="FI"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;font-size:100%;"&gt;Negara  yang dikategorikan sebagai negara yang tidak memiliki konstitusi tertulis adalah  Inggris dan Kanada. Di kedua negara ini, aturan dasar terhadap semua  lembaga-lembaga kenegaraan dan semua hak azasi manusia terdapat pada adat  kebiasaan dan juga tersebar di berbagai dokumen, baik dokumen yang relatif baru  maupun yang sudah sangat tua seperti Magna Charta yang berasal dari tahun 1215  yang memuat jaminan hak-hak azasi manusia rakyat Inggris.&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="" href="http://blogster.com/cgi-bin/blogapp/users/users.cgi?action=article_body&amp;amp;id=#_ftn4" name="_ftnref4"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: 'Times New Roman';" lang="FI"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Karena ketentuan mengenai kenegaraan itu tersebar dalam  berbagai dokumen atau hanya hidup dalam adat kebiasaan masyarakat itulah maka  Inggris masuk dalam kategori negara yang memiliki konstitusi tidak  tertulis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Pada hampir semua konstitusi tertulis diatur mengenai  pembagian kekuasaan berdasarkan jenis-jenis kekuasaan, dan kemudian berdasarkan  jenis kekuasaan itu dibentuklah lembaga-lembaga negara. Dengan demikian, jenis  kekuasaan itu perlu ditentukan terlebih dahulu, baru kemudian dibentuk lembaga  negara yang bertanggung jawab untuk melaksanakan jenis kekuasaan tertentu  itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Beberapa sarjana mengemukakan pandangannya mengenai jenis  tugas atau kewenangan itu, salah satu yang paling &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;terkemuka adalah pandangan Montesquieu bahwa  kekuasaan negara itu terbagi dalam tiga jenis kekuasaan yang harus dipisahkan  secara ketat. Ketiga jenis kekuasaan itu adalah : 1) kekuasaan membuat peraturan  perundangan (legislatif); 2) kekuasaan melaksanakan peraturan perundangan  (eksekutif) dan kekuasaan kehakiman  (judikatif).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Pandangan lain mengenai jenis kekuasaan yang perlu dibagi  atau dipisahkan di dalam konstitusi dikemukakan oleh van Vollenhoven dalam buku  karangannya &lt;i style=""&gt;Staatsrecht over Zee.&lt;a title="" style="" href="http://blogster.com/cgi-bin/blogapp/users/users.cgi?action=article_body&amp;amp;id=#_ftn5" name="_ftnref5"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: 'Times New Roman';" lang="FI"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;/i&gt;Ia membagi  kekuasaan menjadi empat macam yaitu :1) pemerintahan (bestuur); 2)  perundang-undangan; 3) kepolisian dan 4)pengadilan. Van Vollenhoven kemungkinan  menilai kekuasaan eksekutif itu terlalu luas dan karenanya perlu dipecah menjadi  dua jenis kekuasaan lagi yaitu kekuasaan pemerintahan dan kekuasaan kepolisian.  Menurutnya kepolisian memegang jenis kekuasaan untuk mengawasi hal berlakunya  hukum dan kalau perlu memaksa untuk melaksanakan  hukum.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;font-size:100%;"&gt;Wirjono Prodjodikoro dalam bukunya Azas-azas Hukum Tata Negara di  Indonesia mendukung gagasan Van Vollenhoven ini, bahkan ia mengusulkan untuk  menambah dua lagi jenis kekuasaan negara yaitu kekuasaan Kejaksaan dan Kekuasaan  untuk memeriksa keuangan negara untuk menjadi jenis kekuasaan ke-lima dan  ke-enam.&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="" href="http://blogster.com/cgi-bin/blogapp/users/users.cgi?action=article_body&amp;amp;id=#_ftn6" name="_ftnref6"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: 'Times New Roman';" lang="FI"&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="color:#800080;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Berdasarkan teori hukum ketatanegaraan yang dijelaskan  diatas maka dapat disimpulkan bahwa jenis kekuasaan negara yang diatur dalam  suatu konstitusi itu umumnya terbagi atas enam dan masing-masing kekuasaan itu  diurus oleh suatu badan atau lemabaga tersendiri  yaitu:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;ol style="margin-top: 0in;" type="1"&gt;&lt;ol style="margin-top: 0in;" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;kekuasaan  membuat undang-undang (legislatif)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;kekuasaan melaksanakan undang-undang  (eksekutif)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;kekuasaan kehakiman  (judikatif)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;kekuasaan kepolisian&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;kekuasaan kejaksaan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;kekuasaan memeriksa keuangan  negara&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6214438167764716027-1358540188874390119?l=farah-web.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://farah-web.blogspot.com/feeds/1358540188874390119/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6214438167764716027&amp;postID=1358540188874390119' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6214438167764716027/posts/default/1358540188874390119'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6214438167764716027/posts/default/1358540188874390119'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://farah-web.blogspot.com/2008/02/sejarah-konstitusi-dan-amandemen-uud.html' title='SEJARAH KONSTITUSI DAN AMANDEMEN UUD 1945'/><author><name>Dra. Farah Nirwana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16550424780648780794</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_pk-rp23WqcM/R4Q0bJqPRdI/AAAAAAAAAAU/vKIJA54u2hs/S220/FARAH.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6214438167764716027.post-2986201004340979284</id><published>2008-01-23T04:18:00.000-08:00</published><updated>2008-01-23T04:34:19.776-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='source : http://www.ham.go.id/spt_sejarah.asp'/><title type='text'>Sejarah Nasional Hak Asasi Manusia</title><content type='html'>&lt;table style="border-collapse: collapse; color: rgb(17, 17, 17);" id="AutoNumber1" border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" width="100%"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td bg="" style="color: rgb(255, 204, 153);" width="100%"&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 0);font-family:verdana;" &gt;       SEJARAH NASIONAL HAK ASASI MANUSIA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 0);font-family:verdana;" &gt;    &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;     &lt;tr style="font-family: times new roman;"&gt;       &lt;td width="100%"&gt;       &lt;p align="justify"&gt;       Deklarasi HAM yang dicetuskan di Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tanggal 10        Desember 1948, tidak berlebihan jika dikatakan sebagai puncak peradaban umat        manusia setelah dunia mengalami malapetaka akibat kekejaman dan keaiban yang        dilakukan negara-negara Fasis dan Nazi Jerman dalam Perang Dunia II. &lt;/p&gt;       &lt;p align="justify"&gt;Deklarasi HAM sedunia itu mengandung makana ganda, baik        ke luar (antar negara-negara) maupun ke dalam (antar negara-bangsa), berlaku        bagi semua bangsa dan pemerintahan di negara-negaranya masing-masing. Makna        ke luar adalah berupa komitmen untuk saling menghormati dan menjunjung        tinggi harkat dan martabat kemanusiaan antar negara-bangsa, agar terhindar        dan tidak terjerumus lagi dalam malapetaka peperangan yang dapat        menghancurkan nilai-nilai kemanusiaan. Sedangkan makna ke dalam, mengandung        pengertian bahwa Deklarasi HAM seduania itu harus senantiasa menjadi        kriteria objektif oleh rakyat dari masing-masing negara dalam menilai setiap        kebijakan yang dikelauarkan oleh pemerintahnya.&lt;/p&gt;       &lt;p align="justify"&gt;Bagi negara-negara anggota PBB, Deklarasi itu sifatnya        mengikat. Dengan demikian setiap pelanggaran atau penyimpangan dari        Deklarasi HAM sedunia si suatu negara anggota PBB bukan semata-mata menjadi        masalah intern rakyat dari negara yang bersangkutan, melainkan juga        merupakan masalah bagi rakyat dan pemerintahan negara-negara anggota PBB        lainnya. Mereka absah mempersoalkan dan mengadukan pemerintah pelanggar HAM        di suatu negara ke Komisi Tinggi HAM PBB atau melalui lembaga-lembaga HAM        internasional lainnya unuk mengutuk bahkan menjatuhkan sanksi internasional        terhadap pemerintah yang bersangkutan.&lt;/p&gt;       &lt;p align="justify"&gt;Adapun hakikat universalitas HAM yang sesungguhnya, bahwa        ke-30 pasal yang termaktub dalam Deklarasi HAM sedunia itu adalah standar        nilai kemanusiaan yang berlaku bagi siapapun, dari kelas sosial dan latar        belakang primordial apa pun serta bertempat tinggal di mana pun di muka bumi        ini. Semua manusia adalah sama. Semua kandungan nilai-nilainya berlaku untuk        semua.&lt;/p&gt;       &lt;p align="justify"&gt;Di Indonesia HAM sebenarnya telah lama ada. Sebagai        contoh, HAM di Sulawesi Selatan telah dikenal sejak lama, kemudian ditulis        dalam buku-buku adat (Lontarak). Antara lain dinyatakan dalam buku Lontarak        (Tomatindo di Lagana) bahwa apabila raja berselisih faham dengan Dewan Adat,        maka Raja harus mengalah. Tetapi apabila para Dewam Adat sendiri berselisih,        maka rakyatlah yang memustuskan. Jadi asas-asas HAM yang telah disorot        sekarang, semuanya sudah diterpkan oleh Raja-Raja dahulu, namun hal ini        kurang diperhatikan karena sebagian ahli hukum Indonesia sendiri agaknya        lebih suka mempelajari teori hukum Barat. Dengan demikian dapat disimpulkan        bahwa HAM sudah lama lahir di Indonesia, namun dalam perkembangannya tidak        menonjol karena kurang dipublikasikan.&lt;/p&gt;       &lt;p align="justify"&gt;Human Rights selalu terkait dengan hak individu dan hak        masyarakat. Ada yang bertanya mengapa tidak disebut hak dan kewajban asasi.        Juga ada yang bertanya mengapa bukan Social Rights. Bukankan Social Rights        mengutamakan masyarakat yang menjadi tujuan ? Sesungguhnya dalam Human        Rights sudah implisit adanya kewajiban yang harus memperhatikan kepentingan        masyarakat. Demikian juga tidak mungkin kita mengatakan ada hak kalau tanpa        kewajiban. Orang yang dihormati haknya berkewajiban pula menghormati hak        orang lain. Jadi saling hormat-menghormati terhadap masing-masing hak orang.        Jadi jelaslah kalau ada hak berarti ada kewajiban. Contoh : seseorang yang        berhak menuntut perbaikan upah, haruslah terlebih dahulu memenuhi        kewajibannya meningkatkan hasil kerjanya. Dengan demikian tidak perlu        dipergunakan istilah Social Rights karena kalau kita menghormati hak-hak        perseorangan (anggota masyarakat), kiranya sudah termasuk pengertian bahwa        dalam memanfaatkan haknya tersebut tidak boleh mengganggu kepentingan        masyarakat. Yang perlu dijaga ialah keseimbangan antara hak dan kewajiban        serta antara kepentingan perseorangan dengan kepentingan umum (kepentingan        masyarakat). Selain itu, perlu dijaga juga keseimbangan antara kebebasan dan        tanggungjawab. Artinya, seseorang memiliki kebebasan bertindak semaunya,        tetapi tidak memperkosa hak-hak orang lain. &lt;/p&gt;       &lt;p align="justify"&gt;Ada yang mengatakan bahwa pelaksanaan HAM di Indonesia        harus sesuai dengan latar belakang budaya Indonesia. Artinya, Universal        Declaration of Human Rights kita akui, hanya saja dalam implementasinya        mungkin tidak sama dengan  di negara-negara lain khususnya negara Barat        yang latar belakang sejarah dan budayanya berbeda dengan kita. Memang benar        bahwa negara-negara di dunia (tidak terkecualai Indonesia) memiliki        kondisi-kondisi khusus di bidang politik, sosial, ekonomi, budaya dan lain        sebagainya, yang bagaimanapun, tentu saja berpengaruh dalam pelaksanaan HAM.        Tetapi, tidak berarti dengan adanya kondisi yang bersifat khusus tersebut,        maka prinsip-prinsip mendasar HAM yang universal itu dapat dikaburkan        apalagi diingkari. Sebab, universalitas HAM tidak identik dengan "penyeragaman".        Sama dalam prinsip-prinsip mendasar, tetapi tidak mesti seragam dalam        pelaksanaan. Disamping itu, apa yang disebut dengan kondisi bukanlah sesuatu        yang bersifat statis. Artinya, suatu kondisi tertentu tidak dapat        dipergunakan sebagai patokan mutlak. Kondisi itu memiliki sifat yang        berubah-ubah, dapat dipengaruhi dan diciptakan dari waktu ke waktu. Oleh        karena itu, masalahnya adalah kembali kepada siapa yang mengkondisikan dan        mengapa diciptakan kondisi seperti itu ?  &lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6214438167764716027-2986201004340979284?l=farah-web.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://farah-web.blogspot.com/feeds/2986201004340979284/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6214438167764716027&amp;postID=2986201004340979284' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6214438167764716027/posts/default/2986201004340979284'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6214438167764716027/posts/default/2986201004340979284'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://farah-web.blogspot.com/2008/01/sejarah-nasional-hak-asasi-manusia.html' title='Sejarah Nasional Hak Asasi Manusia'/><author><name>Dra. Farah Nirwana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16550424780648780794</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_pk-rp23WqcM/R4Q0bJqPRdI/AAAAAAAAAAU/vKIJA54u2hs/S220/FARAH.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6214438167764716027.post-6323045289003322237</id><published>2008-01-08T18:51:00.000-08:00</published><updated>2008-01-08T19:28:32.989-08:00</updated><title type='text'>Konstitusionalisme Indonesia</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:100%;"&gt;Dalam perkara yang sama, Mahkamah menilai bahwa apabila kita melihat dari sejarah perkembangan konstitusionalisme Indonesia, sebagaimana tercermin dalam kons titusi-konstitusi yang pernah berlaku, yakni UUD 1945 sebelum Perubahan, Konstitusi RIS 1949, UUDS 1950, dan UUD 1945 sesudah Perubahan, tampak adanya kecenderungan untuk tidak memutlakkan hak asasi manusia, dalam arti bahwa dalam hal-hal tertentu, atas perintah konstitusi, hak asasi manusia dapat dibatasi oleh suatu undang-undang. Adapun penjelasannya adalah sebagai berikut:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:100%;"&gt;1. UUD 1945 sebelum Perubahan bahkan tidak memuat secara eksplisit dan lengkap pengaturan tentang hak asasi manusia, termasuk tentang hak untuk hidup, meskipun dalam Alinea ke-4 memuat apa yang kemudian disebut sebagai Pancasila yang salah satunya adalah sila &lt;em&gt;“Kemanusiaan yang adil dan beradab”&lt;/em&gt;;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:100%;"&gt;2. Pasal 32 ayat (1) Konstitusi RIS 1949 memuat ketentuan tentang pembatasan “&lt;em&gt;Hak-hak dan Kebebasan-kebebasan Dasar Manusia” &lt;/em&gt;sebagai berikut, &lt;em&gt;“Peraturan-peraturan undang-undang tentang melakukan hak-hak dan kebebasan-kebebasan yang diterangkan dalam bagian ini, jika perlu, akan menetapkan batas-batas hak-hak dan kebebasan itu, akan tetapi hanyalah semata-mata untuk menjamin pengakuan dan penghormatan yang tak boleh tiada terhadap hak-hak serta kebebasan-kebebasan orang lain, dan untuk memenuhi syarat-syarat yang adil untuk ketenteraman, kesusilaan dan kesejahteraan umum dalam suatu persekutuan yang demokrasi”;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:100%;"&gt;3. Pasal 33 UUDS 1950 juga membatasi HAM (Hak-hak dan Kebebasan-kebebasan Dasar Manusia) sebagai berikut, &lt;em&gt;“Melakukan hak-hak dan kebebasan-kebebasan yang diterangkan dalam bagian ini hanya dapat dibatasi dengan peraturan-peraturan undang-undang semata-mata untuk menjamin pengakuan dan penghormatan yang tak boleh tiada terhadap hak-hak serta kebebasan-kebebasan orang lain, dan untuk memenuhi syarat-syarat yang adil untuk ketenteraman, kesusilaan dan kesejahteraan dalam suatu masyarakat yang demokratis”;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sumber data dari:&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;em&gt;http://jurnalhukum.blogspot.com/2007/11/pembatasan-hak-asasi-manusia-di.html&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6214438167764716027-6323045289003322237?l=farah-web.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://farah-web.blogspot.com/feeds/6323045289003322237/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6214438167764716027&amp;postID=6323045289003322237' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6214438167764716027/posts/default/6323045289003322237'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6214438167764716027/posts/default/6323045289003322237'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://farah-web.blogspot.com/2008/01/konstitusionalisme-indonesia.html' title='Konstitusionalisme Indonesia'/><author><name>Dra. Farah Nirwana</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16550424780648780794</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_pk-rp23WqcM/R4Q0bJqPRdI/AAAAAAAAAAU/vKIJA54u2hs/S220/FARAH.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
